0

The Provider

بسم الله الرحمن الرحيم

I feel like I did not write for a very long time, only to realise that the last post was only 6 days ago. (And there is a draft post that I wrote 1 day ago.)

My mother told me a lot of things, and one of which I hold on to is to not be preoccupied with the cost of a class. I can’t say that I wholeheartedly hold on to it, there were times that I have my doubts.

On the 29th of December, I came back home happy as I have managed to register for a class that I (really) wanted to join back in 2016. Not realising that I did not think through the cost of the class. (I know, what?!?)

Today, 7th of January, since it is my birthday month, my brother let me choose what I want.

So I offered him, do you want to pay for my class? You want to pay the miscellaneous fees or the monthly fees?

I thought he just wanted to pay for this month fees. But he offered to pay for the whole course. MasyaAllah. (Maybe he will pay for my future diploma also…aamiin)

Anyone else wants to pay for my other classes? I have other classes too. You can totally contact me if you want. Any takers? No?

Hahaha.

May Allah reward him bountifully.

Advertisements
Quote
0

REPOST FROM TUMBLR perempuanpelik


Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat,
Rupanya dia menutup kekurangannya tanpa perlu berkeluh kesah.

Aku melihat hidup teman-temanku tak ada duka dan kepedihan,
Rupanya dia pandai menutup dukanya dengan bersyukur dan redha.

Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian,
Rupanya dia begitu menikmati badai hujan dlm kehidupannya.

Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna,
Rupanya dia berbahagia dengan apa yang dia ada.

Aku melihat hidup jiran tetanggaku sangat beruntung,
Ternyata dia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung.

Setiap hari aku belajar memahami dan mengamati setiap hidup orang yang aku temui..
Ternyata aku yang kurang mensyukuri nikmat Allah..
Bahawa di satu sudut dunia lain masih ada yang belum beruntung memiliki apa yang aku ada saat ini.

Dan satu hal yang aku ketahui, bahawa Allah tak pernah mengurangkan ketetapan-Nya.
Hanya akulah yang masih saja mengkufuri nikmat suratan takdir Ilahi.

Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rezeki orang lain.

Mungkin aku tak tahu dimana rezekiku. Tapi rezekiku tahu dimana diriku berada.

Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah telah memerintahkannya menuju kepadaku.

Allah menjamin rezekiku, sejak 4 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku.

Amatlah keliru bila bertawakkal rezeki dimaknai dari hasil bekerja.
Kerana bekerja adalah ibadah, sedang rezeki itu urusan-Nya..

Melalaikan kebenaran dan gelisah dengan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda..

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati.

Mereka lupa bahawa hakikat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya.

Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh sekehendak-Nya.

Siti Hajar berulang alik dari Safa ke Marwah, tapi air Zam-zam muncul dari kaki anaknya, Ismail.

Ikhtiar itu perbuatan. Rezeki itu kejutan.
Dan yang tidak boleh dilupakan, setiap hakikat rezeki akan ditanya kelak, “Dari mana dan digunakan untuk apa”

Kerana rezeki hanyalah “hak pakai”, bukan “hak milik”…

Halalnya dihisab dan haramnya diazab.
Maka, aku tidak boleh merasa iri pada rezeki orang lain.

Bila aku iri pada rezeki orang, sudah seharusnya juga iri pada takdir kematiannya.